--> Perilaku Orang Jawa, Sinkretisme Agama dalam Sistim Moralitas Jawa | Kandank Warak

Perilaku Orang Jawa, Sinkretisme Agama dalam Sistim Moralitas Jawa

Beberapa manusia dalam menghayati dan mengamalkan ajaran agamanya memberikan penekan-penekanan khusus pada aspek-aspek tertentu dari agamnya itu. Sebagian ada yang menekankan pada penghayatan mistik, ada yang menekankan pada penalaran logika, penekanan pada aspek pengamalan ritual, dan ada juga yang menekankan pada aspek pelayanan (amal shalih)

Sunan Kalijaga

KANDANK WARAK - Masyarakat Jawa sebagai masyarakat religius telah terjadi penghayatan dan pengamalan agama melalui berbagai cara yang satu sama lain memperlihatkan perbedaan.

Perbedaan yang dimaksud ada yang hanya bersifat budaya, dan adapula yang sudah menyangkut keyakinan atau akidah. Cara-cara yang dimaksud yaitu ada cara mistik, penalaran, amal shalih dan cara sinkretisme.  

Dalam sistim moralitas jawa yang dimaksud di sini adalah perilaku orang jawa dalam kehidupan keagamaannya khususnya bagi masyarakat yang beragama Islam  melakukan cara-cara keagamaan tersendiri.

Beberapa manusia dalam menghayati dan mengamalkan ajaran agamanya memberikan penekan-penekanan khusus pada aspek-aspek tertentu dari agamnya itu. Sebagian ada yang menekankan pada penghayatan mistik, ada yang menekankan pada penalaran logika, penekanan pada aspek pengamalan ritual, dan ada juga yang menekankan pada aspek pelayanan (amal shalih).

Berikut ini uraian dan penjelasannya:

Pertama, cara mistik. Dalam menghayati dan mengamalkan ajaran agamanya, sebagian manusia cenderung lebih menekankan pada pendekatan mistikal daripada pendekatan yang lain. Cara mistik seperti ini dilakukan oleh para sufi (pengikut tarekat) dan pengikut kebatinan (kejawen).

Adapun mistik itu sendiri adalah  suatu pengamalan yang dilakukan oleh pengikut agama tertentu yang lebih menekankan pada aspek pengamalan batiniah (esoterisme) dari ajaran agama, dan mengabaikan aspek pengamalan formal, struktural dan lahiriyah (eksoterisme).

Pada setiap pengikut agama apapun agamanya baik agama besar maupun agama lokal, selalu memiliki kelompok pengikut yang memberi perhatian besar pada cara beragama mistik ini. Di kalangan pengikut agama Islam dikenal dengan sufisme, dikalangan umat Katholik dikenal dengan hidup kebiaraan, begitu pula dikalangan Hindu maupun Budhisme. Beragama dengan cara mistik sangat digemari oleh masyarakat berkebudayaan tertentu, yang secara kultur dominan, mereka menekankan pada hal-hal mistiktikal tersebut, seperti sebagian masyarakat yang berkebudayaan jawa.

Kebudayaan jawa adalah tipe kebudayaan yang menekankan pada hidup kerohanian bersifat esoteris dan menjunjung tinggi harmonitas hidup sehingga kadangkala menyebabkan terjadinya sinkritisme.

Kedua, cara penalaran, di samping penghayatan dan pengamalan agama cara mistik, ada pula cara penalaran, yaitu cara beragama dengan menekankan pada aspek rasionalitas dari ajaran agama. Bagi penganut aliran ini, bagaimana agama itu harus dapat menjawab masalah yang dihadapi penganutnya dengan jawaban yang masuk akal.

Beragama tidak selamanya harus menerima begitu saja apa yang didoktrinkan oleh pimpinan agama, mereka menyenangi interpretasi yang bebas dalam menafsirkan teks dari kitab suci atau buku-buku agama lainnya. Dari tradisi Islam umpamanya, ada kelompok yang disebut mutakalimin atau para ahli ilmu kalam, yang banyak membicarakan teologi Islam dengan memakai dalil tekstual (naqli) dan dalil rasional (aqli). 

Ketiga, cara amal shalih. Cara beragama yang ketiga ini lebih menekankan pengahayatan dan pengamalan agama pada aspek peribadatan, baik ritual formal maupun aspek pelayanan sosial keagamaan. Menurut kelompok ini, yang terpenting dalam beragama adalah melaksanakan amal shalih, karena indikator seseorang beragama atau tidak ialah dalam pelaksanaan segala amalan lahir dari agama itu sendiri.

Tuhan memasukkan seorang manusia ke dalam surga adalah karena amal shalih orang tersebut yang dilakukan ketika ia masih hidup. Tidak ada artinya pengakuan dan iman dalam hati kalau tidak dinyatakan dalam amal perbuatan fisik dan perwujudan materi. Dalam agama Islam, kelompok ini lebih banyak mengikuti ajaran fiqih dan hukum-hukum agama mengenai tata cara amal shalih  daripada amal yang lainnya.

Keempat, cara sinkretisme. Salah satu sifat dari masyarakat Jawa adalah bahwa mereka religius dan bertuhan. Sebelum agama-agama besar datang ke Indonesia, khususnya Jawa, mereka sudah mempunyai kepercayaan adanya Tuhan yang melindungi dan mengayomi mereka. 

Keberagamaan ini semakin berkualitas dengan masuknya agama-agama besar seperti Hindu, Budha, Islam, Katholik, dan Protestan ke Jawa. Namun, dengan pengamatan selintas dapat diketahui bahwa dalam keberagamaan rata-rata masyarakat Jawa adalah nominalis, dalam arti bahwa mereka tidak bersungguh-sungguh dalam melaksanakan ajaran-ajaran agamanya.

Ada di antara mereka yang benar-benar serius dalam menjalankan ajaran-ajaran agamanya. Ada juga yang berusaha untuk serius tetapi karena hambatan-hambatan khusus, seperti ewuh dengan lingkungan yang tidak mendukung, takut dikatakan sok suci semuci dan sebagainya, membuat mereka kikuk dalam mengekspresikan keagamaannya secara utuh.

Hal ini bisa saja mereka mengaku sebagai orang muslim, yang untuk itu mereka bersedia dikhitan, membaca syahadat ketika akan melaksanakan akad nikah, melakukan salat Idul Fitri, membaca surat Yasin dan tahlil ketika diundang slametan oleh tetangga dan kerabatnya, menghadiri pengajian pada hari-hari besar Islam, memberikan sumbangan untuk pembangunan masjid dan sebagainya.

Namun untuk benar-benar serius dan sungguh-sungguh dalam menjalankan syariat Islam, seperti salat lima waktu dengan berjamaah, puasa sebulan penuh dalam bulan Ramadhan, membayar zakat mal (zakat yang berkaitan dengan penghasilan yang mereka terima dan harta yang mereka miliki), dan amala-amalan agama lainnya yang relatif sulit dilaksanakan serta membutuhkan keseriusan, mereka enggan mengerjakannya.

Karena kurangnya keseriusan dalam memahami dan mengamalkan agamanya, berakibat kepada beberapa hal, yang antara lain mudahnya mereka tergiur dalam mengadopsi kepercayaan, ritual, dan tradisi dari agama lain yang termasuk tradisi asli pra Hindu-Budha yang dianggap sesuai dengan alur pemikiran mereka.

Oleh karena itu, meskipun mengaku sebagai seorang muslim, mereka juga meletakkan kembang setaman dan sesaji lainnya di tempat-tempat khusus pada hari-hari tertentu, mengadakan ruwatan untuk anak-anaknya yang perlu diruwat, melakukan laku khusus pada malam satu Suro, dan mengeramatkan keris serta benda-benda pusaka lainnya. Selain itu ketika anaknya mau menghadapi ujian, ia melakukan  tirakat berupa puasa mutih, ziarah dan nyepi di makam leluhurnya yang dulu dikenal mempunyai kekuatan linuwih serta laku-laku tirakat lainnya.

Mereka lakukan dalam rangka mencari kedamaian dan ketenangan dalam menghadapi ketegangan akibat munculnya berbagai problematika kehidupan yang menumpuk. Dengan demikian, secara sadar atau tidak, mereka telah melakukan sinkretisasi antara ajaran Islam dengan ajaran-ajaran dari luar Islam (Budha, Hindu, dan Kepercayaan asli).

Sebagai contoh dari sinkretisme antara dua agama yang berbeda adalah penggabungan antara agama Islam dan Hindu di India, seperti yang dilakukan oleh Guru Nanak (1469-1538).

Ketika melihat adanya konflik yang berkepanjangan antara pemeluk agama Islam dan agama Hindu, Guru Nanak berinisiatif untuk menggabungkan ajaran-ajaran kedua agama besar tersebut, dengan mengambil unsur-unsur yang dianggap baik dari keduanya, sebagai ajaran agama baru yang dibentuknya. Gabungan kedua agama ini disebut agama Sikh, dengan ajaran-ajaran sebagai berikut.
1. Percaya satu Tuhan (Hari)
2. Melarang pemujaan arca-arca keagamaan
3. Percaya reinkarnasi dan hukum karma
4. Membuang upacara-upacara keagamaan
5. Mengajarkan persamaan hak dan martabat laki-laki dan wanita
6. Menghindari kegiatan keduniawian
7. Menjauhi minuman keras dan rokok
8. Menjalankan hidup damai dan benar

Dari ajaran-ajaran di atas terlihat bahwa agama Sikh sangat dipengaruhi oleh ajaran-ajaran Islam (percaya kepada Tuhan yang satu dan melarang pemujaan terhadap arca), dan ajaran-ajaran Hindu (percaya kepada reinkarnasi dan hukum karma).

Di kalangan masyarakat Jawa pernah terjadi penggabungan antara dua agama, yaitu agama Budha dan agama Hindu (Siwa). Kedua agama tersebut mempunyai persamaan dan sekaligus perbedaan. Namun oleh masyarakat Jawa pada kurun tertentu, kedua agama ini telah diamalkan sekaligus secara bersama-sama. Hal ini dibuktikan ketika Wishnuwardana wafat, nisannya di Waleri berbentuk patung Siwa sedangkan di Jajaghu berbentuk Budha. Begitu pula candi di Prigen telah digunakan untuk pemujaan para pemeluk agama Siwa maupun Budha.

Suatu langkah sinkretisme telah dipertunjukkan antara orang-orang Islam (penganut aliran “Wektu Telu”) dan Hindu di suatu tempat di Pulau Lombok, dengan mendirikan Pura Lingsar. Sebagai pura, bangunan ini digunakan untuk tempat ritual pemeluk Hindu. Namun keistimewaannya, tempat ini juga digunakan salat orang-orang yang beraliran Wektu Telu. 

Dalam repostase sebuah televisi swasta pada acara Buletin Malam Jum’at, 8 Oktober 1999 ditayangkan bagaimana tempat yang berbentuk pura tersebut, di dalamnya terdapat simbol-simbol keislaman, seperti tangga beranak 17 yang menunjukkan jumlah rakaat salat, lima buah pancuran yang menunjukkan rukun Islam yang lima, dan sebagainya.

Para pengamat menyebut hal itu sebagai sinkretisme karena merupakan penggabungan dua agama yang berbeda. Tapi sebagian lain mengatakan bahwa hal itu bukan merupakan sinkretisme, melainkan buah dar sikap toleran mendalam yang dilandasi oleh semangat untuk menghormati dan menghayati, serta mengamalkan semua nilai kebenaran, dari mana pun sumbernya. Semangat tersebut diadopsi dari Empu Tantular yang mengatakan Bhinneka Tunggal Ika ‘berbeda-beda tetapi tetap satu’ dan tan hana dharma mangarwa ‘tidak ada kebenaran ganda’.

Memaknai Bhinneka Tunggal Ika ini, mereka mengartikan-nya bukan sekedar, “walaupun berbeda-beda suku dan bangsa tapi tetap satu”, tetapi mereka  menambahkan “walaupun berbeda-beda, semua agama itu pada hakikatnya tetap satu”.

Mereka beranggapan walaupun secara lahiriah semua agama berbeda, tetapi pada hakikatnya satu, yaitu menuju Tuhan yang Maha Esa. Oleh karena itu, bagi mereka tidak ada halangan bagi pemeluk sesuatu agama untuk mengambil ajaran dan ritual dari agama lain sebagai sarana untuk mendekatkan diri kepada Tuhannya. Maka dianggaplah suatu kewajaran apabila pemeluk agama Siwa atau Hindu mengambil unsur-unsur dari ajaran agama Budha, dan sebaliknya pemeluk agama Budha mengambil ajaran dari unsur Hindu.

Abdullah Ciptoprawiro, seorang dokter yang mengajar filsafat Jawa di jurusan Filsafat Sastra Universitas Indonesia, menambahkan bahwa dengan tidak memandang asal-usulnya, semua hasil pemikiran, pengalaman dan penghayatan manusia dalam gerak perjalanannya menuju kepada Tuhan dan kesempurnaan dianggapnya sebagai pola tetap dari pemikiran dan filsafat Jawa. Langkah tersebut diibaratkan sebagai mozaik yang mempunyai pola tetap, tetapi unsur-unsur di dalamnya atau batu-batunya akan berubah dengan budaya baru.

Dengan demikian menurutnya, unsur-unsur ajaran agama, baik Islam,  Hindu, Budha, Kristen Protestan dan Katholik, boleh saja mewarnai usaha-usaha manusia Jawa dalam menggapai kesempurnaan hidup dan Tuhannya, dengan tidak merubah esensinya

Sinkretisme agama dengan unsur-unsur luar sesungguhnya tidak dikehendaki oleh sebagian ulama dan tokoh agama, termasuk Islam. Oleh karena itu, meskipun semua orang Islam mengatakan bahwa dalam beragama mereka selalu berpedoman pada al-Qur’an dan as-Sunnah, tetapi kenyataan menunjukkan bahwa di setiap tempat dapat dijumpai amalan Islam yang khas dan berbeda karakter bila dibandingkan dengan tempat-tempat lainnya. Begitu juga Islam dalam masyarakat Jawa.

Di kalangan masyarakat Jawa terdapat orang-orang muslim yang benar-benar berusaha menjadi muslim yang baik, dengan menjalankan perintah agama dan menjauhi larangannya. Di samping itu juga terdapat orang-orang yang mengakui bahwa diri mereka muslim, tetapi dalam kesehariannya tampak bahwa ia kurang berusaha untuk menjalankan syari’at agamanya dan hidupnya sangat diwarnai oleh tradisi dan kepercayaan lokal. Di samping itu terdapat pula kelompok yang bersifat moderat. Mereka berusaha mengamalkan semua ajaran-ajaran Islam dengan baik, tetapi juga mengapresiasi dalam batas-batas tertentu terhadap budaya dan tradisi lokal.

Dalam mendeskripsikan kedua kelompok muslim di atas, Karel A. Steenbrink, seorang orientalis dari Belanda yang pernah mukim di Indonesia selama beberapa tahun untuk penelitian dan mengajar di beberapa perguruan tinggi, menyebutkan keduanya sebagai official dan folk religion.

Adapun Von Grunebaum, sebagaimana dikutip B.Pranowo, menyebutkan keduanya sebagai “the Islamic high culture” (untuk orang-orang yang relatif taat kepada syari’at agamanya) dan “local cultures” (untuk orang yang kurang taat kepada ajaran-ajaran agamanya dan sangat kental dengan tradisi lokal). Di samping digunakan istilah dari Von Grunebaum, juga digunakan istilah “tradisi besar” dan “tradisi kecil” dari R. Redfield untuk maksud yang sama.

Dalam menerangkan keberagamaan masyarakat muslim Jawa, Kuncaraningrat membagi mereka menjadi dua, yaitu agama Islam Jawa dan agama Islam santri. Mereka yang beragama Islam Jawa  kurang taat kepada syari’at dan bersikap sinkretis yang menyatukan unsur-unsur pra-Hindu, Hindu, dan Islam, sedangkan yang kedua lebih taat dalam menjalankan ajaran-ajaran agama Islam dan bersifat puritan. Namun demikian, meski tidak sekental pengikut agama Islam Jawa dalam keberagamaan, para pemeluk Islam santri juga masih terpengaruh oleh animisme, dinamisme, dan Hindu-Budha.

Subtansi yang hampir sama, Clifford Geertz, seorang antropolog Amerika yang pernah melakukan penelitian di kota Pare, yang ia samarkan menjadi Kota Mojokuto pada awal tahun lima puluhan, mengelompokkan masyarakat Jawa menjadi tiga kelompok, yaitu abangan, santri, dan priyayi.

Dalam konteksnya dengan uraian di atas, perlu dijelaskan  tentang proses atau bentuk sinkretisme menjadi sebuah prilaku yang ada di masyarakat Jawa dalam hubungannya dengan akidah. Salah satu di antaranya yaitu upacara Tedak siten.

Upacara tedak siten merupakan suatu ritus peralihan yang umum dilakukan tidak hanya pada kalangan masyarakat Jawa. Etnik lain seperti Melayu, Banjar, dan Bugis juga mengenal upacara semacam yang dikenal sebagai upacara turun tanah.

Secara bahasa arti kata tedak siten ini memang "turun tanah". Upacara tedak siten yang dilaksanakan di kalangan masyarakat Jawa dilakukan ketika sebuah keluarga memiliki anak, laki-laki atau perempuan, yang telah mencapai tujuh lapan (7 X 35 hari). Upacara dilaku kan untuk memperkenalkan anak untuk pertama kali menginjak bumi atau tanah, karena pada usia itu seorang anak memang sudah saatnya untuk belajar berjalan (dititah).

Upacara ini biasanya dilaksanakan pada pagi hari di halaman rumah keluarga bersangkutan, tepat pada hari kelahiran (weton) anak. Jika anak lahir pada hari Selasa Kliwon, maka upacara tedak siten itujuga dilaksanakan pada hari Selasa Kliwon.

Upacara tedak siten memiliki tujuan agar anak tersebut kelak setelah dewasa akan menjadi orang yang kuat dan mampu berdiri sendiri. Selain itu juga memiliki tujuan agar anak kelak akan mudah dalam menjalani ke hidupan yang penuh tantangan dan tercapai apa yang di cita-citakan. Untuk itu dalam upacara tedak siten dilengkapi dengan berbagai upacara yang dianggap mempunyai nilai sakral (keramat). Upacara-upacara yang dimaksud meliputi: perlengkapan upacara; jalannya upacara; dan makna yang terkandung dari perlengkapan.

1. Perlengkapan Upacara
Untuk terlaksananya upacara tedak siten ada beberapa perlengkapan yang harus dipersiapkan, yaitu se saji selamatan, yang terdiri atas:
- nasi tumpeng dengan sayur-mayumya;
- jenang (bubur) merah dan putih;
- jenang baro-baro;
- jajan pasar selengkap-lengkapnya;
- juwadah (uli) lima macam wama, yaitu merah, putih, hitam, kuning, dan hijau;
- sekar (bunga) setaman dan tanah yang ditempatkan dalam bokor besar;
- tangga yang dibuat dari batang tebu merah hati;
- kurungan ayam yang dihiasi dengan janur kuning atau kertas hias wama-warni;
- padi, kapas, sekar telon (bunga tiga macam, misalnya mawar, melati, dan kenanga);
- beras kuning dan berbagai lembaran uang;
- bermacam-macam barang berharga, seperti gelang, kalung, dan peniti;
- bermacam-macam barang yang bermanfaat, misalnya buku dan alat-alat tulis yang dimasukkan ke dalam bokor kencana (Bratawidjaja, 2000:32-33).

2.Jalannya Upacara
Langkah-langkah upacara tedak siten adalah sebagai berikut:
- Anak yang diupacarai dibimbing berjalan (dititah) dengan kakinya diarahkan untuk menginjak-injak tanah yang dimasukkan ke dalam bokor dengan dita buri bunga danjuwadah yang berjumlah lima.
- Setelah selesai anak tersebut dinaikkan ke tangga yang terbuat dari tebu merah hati.
- Selanjutnya anak itu dimasukkan ke dalam kurungan ayam. Di dalam kurungan ayam tersebut telah dise diakan bokor yang telah diisi dengan padi, gelang, . cincin, alat-alat tulis, kapas, dan lain-lain.
- Bokor yang berisikan berbagai macam benda tadi di dekatkan kepada anak dengan maksud agar anak mengambil benda yang ada dalam bokor tersebut.
-  Setelah anak mengambil salah satu benda, misalnya gelang, maka anak itu dianggap pertanda bahwa anak tersebut kelak akan menjadi orang kaya. Jika anak mengambil alat-alat tulis, itu pertanda bahwa anak akan menjadi pegawai kantor atau orang pandai, dan jika anak mengambil jarum atau benang, kelak anak tersebut akan menjadi penjahit profesional.
- Setelah selesai, beras kuning dan berbagai uang logam ditaburkan.
- Setelah itu anak dimandikan dengan bunga setaman, dengan harapan anak akan terjaga kesehatannya dan kelak akan membawa nama hamm keluarga.
- Sesudah dimandikan anak diberi pakaian baru yang bagus agar sedap dan menyenangkan orang tua dan para tamu undangan yang menyaksikan.
- Setelah berpakaian, anak didudukkan di dalam rumah, di atas karpet atau tikar dan kembali bokor dengan isi beras kuning, uang, dan berbagai barang berharga didekatkan pada anak. Untuk menarik hati agar anak mengambil barang yang ada dalam bokor itu, maka orang-orang dewasa yang ada di tempat upacara itu mengucapkan panggilan seperti ketika orang mengambil ayam, yaitu kurr...kurr...kurr (Brata- widjaja, 2000:33-35). 


3. Makna yang Terkandung dari Perlengkapan
- Tangga dari tebu, memberikan arti dari kata tebu, yaitu anteping kalbu atau kemantapan hati dalam mengejar cita-cita.
- Juwadah yang berjumlah lima macam menceritakan lima macam nafsu yang ada pada manusia.
- Kurungan ayam mengandung maksud agar anak tersebut kelak dapat masuk ke dalam masyarakat luas dengan baik, mematuhi segala peraturan dan adat istiadat setempat, dan tidak melakukan perbuatan- perbuatan yang melanggar perbuatan-perbuatan yang telah ditetapkan oleh masyarakat di mana anak itu berada .

Sikap toleran dan akomodatif terhadap kepercayaan dan budaya setempat, di satu sisi memang dianggap membawa dampak negatif, yaitu sinkretisasi dan pencampur-adukan antara Islam di satu sisi dengan kepercayaan-kepercayaan lama di pihak lain, sehingga sulit dibedakan mana yang benar-benar ajaran Islam dan mana pula yang berasal tradisi.

Ajaran-ajaran yang disinkretiskan tersebut telah menjadi jembatan yang memudahkan masyarakat Jawa dalam menerima Islam sebagai agama mereka yang baru.dan sebaliknya, ajaran-ajaran tersebut telah memudahkan pihak Islam pesantren untuk mengenal dan memahami pemikiran dan budaya Jawa, sehingga memudahkan mereka dalam mengajarkan dan menyiarkan Islam kepada masyarakat Jawa. 

Cerita tentang walisongo yang sekti mandraguna dan mampu melakukan hal-hal di luar batas kemampuan telah menarik perhatian bukan saja kaum pesantren, tetapi juga masyarakat yang kurang taat dalam beragama.

Sinkretisme ini semakin mengendap tatkala kerajaan Demak, kerajaan Islam di Jawa pertama, pindah ke Pajang dan kemudian Mataram, yang keduanya berada di pedalaman. Pada saat kraton berada di Demak, yang berada di bibir pantai, hubungan dengan dunia luar relatif mudah dilakukan.

Oleh karena itu, ekonomi masyarakat digerakkan lewat perdagangan antara pulau, yang dengannya para mubaligh dari luar Jawa dapat mengajar dan menyiarkan agama Islam kepada masyarakat Jawa, dan sebaliknya masyarakat Jawa yang pengetahuan dan pemahamannya tentang Islam belum mapan dapat belajar ke tempat-tempat lain yang islamnya relatif lebih maju.

Namun, setelah kraton pindah ke pedalaman, ekonomi masyarakat lebih bertumpu pada pertanian, yang tidak memerlukan mobilitas penduduk dari satu tempat ke tempat lainnya. Akibatnya, islamisasi yang sudah berjalan secara evolutif, terhenti, dan menyebabkan tradisi serta kepercayaan lama menjadi marak kembali. 

Hal ini mencapai puncaknya tatkala Belanda datang ke Indonesia yang memonopoli dunia pelayaran di Jawa dan memblokade hubungan antar pulau, sehingga masyarakat tidak lagi mampu berkomunikasi dengan teman-teman mereka di seberang pulau secara leluasa. Apalagi pemerintah Belanda secara sengaja mempraktekkan politik devide et impera dengan mempertajam perbedaan adat antara satu suku dengan suku lainnya. Politik ini menyebabkan masing-masing suku lebih suka membanggakan tradisi dan adat sukunya, serta mengabaikan pembinaan dan penyempurnaan dari kualitas keagamaan (Islam) mereka.

Dalam uraian di atas telah disebutkan beberapa contoh tentang pelaksanaan sinkretisasi antara unsur-unsur dari ajaran-ajaran Islam dengan agama Budha, Hindu, dan tradisi lokal Jawa. Dan jelas pula bahwa moralitas jawa dalam beragama masih memadukan atau menggabungkan ajaran agama-agama lain, terutama Hindu dan Buddha.

Sumber bacaan:
[1] Niel Mulder, Kepribadian  Jawa, Gajah Mada Press, Yogyakarta 1980
[2] Dadang Kahmad, Metode Penelitian Agama Perspektif Ilmu Perbandingan Agama, Pustaka Setia Bandung, 2000
[3] Marbangun Hardjowiraga, Manusia Jawa, Intidayu Press, Jakarta, 1984, hlm. 17, dan lihat pula Koentjaeaningrat, Kebudayaan Jawa, Balai Pustaka, Jakarta, 1984
[4] Hassan Shadily (Pemimpin Redaksi), Ensiklopedi Indonesia VI, Ichtiar Baru Van Hoeve, Jakarta, 1990
[5] Sujamto, Reorientasi dan Revitalisasi Pandangan Hidup Jawa, Dahara Prize, Semarang, 1997
[6] Abdullah Ciptoprawiro, Filsafat Jawa, Bumi aksara, Jakarta 1986
[7] Karel A. Steenbrink, Mencari Tuhan Dengan Kacamata Barat, IAIN Sunan Kalijaga Press, Yogyakarta, 1988
[8] B. Pranowo, Menyingkap Tradisi Besar dan Tradisi kecil, Majalah Pesantren no.3 volume 4, 1987
[9] Thomas Wiyasa Bratawidjaja, Upaca Tradisional Masyarakat Jawa, Sinar Harapan, Jakarta 2000
[10] Johan Hendrik Meuleman, Indonesia Islam Between Particularity and Univercity, Studia Islamika Vol. IV No. 3, 1977
Nama

agus munif,2,ajaran sunan kalijaga,1,aktual,80,alfin hidayat,4,alissa wahid,1,amerika,1,ananta damarjati,1,anggaran pendapatan dan belanja negara (apbn),1,anies baswedan,4,anthony budiawan,1,antik,1,awalil rizky,5,barisan nusantara,3,batik,1,beta wijaya,2,biografi,3,brandal lokajaya,2,budaya,6,budaya semarang,1,budayawan semarang,1,buku,2,buku ekonomi,1,buku gratis,2,buku sosiologi,1,buya hamka,1,cak nun,2,cengengesan,3,cerpen,2,chairil anwar,1,cheng ho,2,china,1,cuci tangan,1,dangdut koplo,1,demokrasi,1,djawahir muhammad,2,ebook gratis,2,edhie prayitno ige,4,eko tunas,11,ekonomi,5,ekonomi syariah,1,ensiklopedia,3,estetika,1,fundamental ekonomi,1,Galileo Galilei,1,gambang syafaat,1,gentong,1,germas berkat,1,gonam aqiqah,1,guru online erlangga,1,gusdurian,1,gusdurian peduli,1,hafidz,1,Hans Lippershey,1,hate speech,1,herman sinung janutama,1,hersubeno arief,3,idul fitri,1,iktikaf di masjid,1,islam nusantara,1,isra miraj nabi muhammad,1,jahe,1,jakarta,2,jokowi,2,kabar kami,7,kandank warak,1,kapitalisme,1,kelenteng sam po kong,1,ken arok,1,kentongan,1,keris,1,keris empu gandring,1,kesehatan,1,ketua rt,1,kh hasyim asyari,1,khazanah,12,kisah,1,kolom,41,komisi pemberantasn korupsi,1,kongkow,15,kontes guru online,1,koperasi,1,korupsi,1,krisis ekonomi,2,krisis masker,1,krl commuter line,1,lifestyle,1,lockdown,2,luhut binsar panjaitan,1,lukman wibowo,4,lukni an nairi,5,makrifat,1,malam nisfu syaban,2,manuskrip tuhan,1,martin suryajaya,1,masker,1,maulid al barzanji,1,mbohlah,1,mh rahmat,2,mohammad hatta,1,mudik,2,nabi sulaiman,1,najwa shihab,1,nelson mandela,1,new normal,1,ngaji,7,ngesti pandawa,1,nikmat yang kamu dustakan,1,ninik ambarwati,1,nuzulul quran,1,oligarki ekonomi,1,oligarki politik,1,orde baru,1,pandawa,1,partai komunis indonesia,1,pasar johar,1,pcnu kota semarang,1,pelukis,1,pembatasan kegiatan masyarakat (pkm),1,penerbit erlangga,1,pengurus rt,1,pepatah jawa,1,pertumbuhan ekonomi 5 persen,1,politik,5,pondok pesantren,2,profil,1,puasa,2,publikasi,2,puisi,6,puisi idul fitri,1,puisi puasa,1,punakawan,1,raden saleh,1,ramadan,3,reformasi,1,rung guru,1,santet,1,santri,1,sastra,8,sastra semarang,1,semut,1,sinkretisme agama,1,slamet unggul,1,social distancing,1,sosialisme,1,sosiologi,1,sunan kalijaga,4,sus s hardjono,1,syahrul efendi dasopang,1,syarief bustaman,1,syekh siti jenar,1,tafsir,1,tasawuf,1,teleskop,1,togel semarang,1,toko buku online,1,toko online,1,tony rosyid,3,umbu landu,1,usaha mikro kecil menengah (umkm),1,virus corona,15,wardjito soeharso,1,warung angkringan,1,watak orang semarang,1,work from home,1,yahudi,1,yusdi usman,2,
ltr
item
Kandank Warak: Perilaku Orang Jawa, Sinkretisme Agama dalam Sistim Moralitas Jawa
Perilaku Orang Jawa, Sinkretisme Agama dalam Sistim Moralitas Jawa
Beberapa manusia dalam menghayati dan mengamalkan ajaran agamanya memberikan penekan-penekanan khusus pada aspek-aspek tertentu dari agamnya itu. Sebagian ada yang menekankan pada penghayatan mistik, ada yang menekankan pada penalaran logika, penekanan pada aspek pengamalan ritual, dan ada juga yang menekankan pada aspek pelayanan (amal shalih)
https://1.bp.blogspot.com/-Z2nsnBQ9rHM/XneqVkl19rI/AAAAAAAAAds/6XzUD6j5Yg4Feom1bsXcVZ1biDTR8Lw0QCLcBGAsYHQ/s400/Singkritisme%2BMasyarakt%2BJawa.jpg
https://1.bp.blogspot.com/-Z2nsnBQ9rHM/XneqVkl19rI/AAAAAAAAAds/6XzUD6j5Yg4Feom1bsXcVZ1biDTR8Lw0QCLcBGAsYHQ/s72-c/Singkritisme%2BMasyarakt%2BJawa.jpg
Kandank Warak
https://www.kandankwarak.com/2020/03/sinkretisme-agama-orang-jawa.html
https://www.kandankwarak.com/
https://www.kandankwarak.com/
https://www.kandankwarak.com/2020/03/sinkretisme-agama-orang-jawa.html
true
1305108734588655101
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH ALL POSTS Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS PREMIUM CONTENT IS LOCKED STEP 1: Share to a social network STEP 2: Click the link on your social network Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy